Inilah Tiga Koalisi di Pilpres 2019

Jumat, 11 Agustus 2017 | 18:52
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : istimewah

INDOPOS.CO.ID - Direktur  Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti punya analisis terkait simulasi pasangan  calon presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Ray menyebut akan ada tiga paslon. Ketiga paslon itu masing-masing didukung oleh tiga koalisi,  yakni koalisi baku propemerintah atau koalisi petahana, koalisi baku petahana calon dan koalisi abu-abu.

 
"Dilihat dari peta politik, ada tiga peta koalisi parpol hingga saat ini. Istilah yang saya pakai koalisi baku, selanjutnya ada dua koalisi baku propemerintah/ koalisi petahana. Ada juga koalisi baku petahana calon (Prabowo)," paparnya dalam diskusi media Para Syndicate di Jakarta, Jumat (11/8/2017).
 
Dalam koalisi baku petahana, Ray menyebut beberapa Parpol yang sudah resmi menyatakan dukungannya kepada petahana Presiden Jokowi. Ada Golkar, Hanura, dan PPP. Sementara Nasdem dan PDIP dilihat akan tetap mencalonkan Jokowi karena tidak ada goncangan politik yang berarti.
 
Selanjutnya, koalisi baku pro-petahana calon yang menurut Ray sudah terdapat dua partai yakni Gerindra dan PKS. 
 
"Ini berarti kali ketiga Pak Prabowo menjadi calon presiden. Bahkan tiga kali berturut-turut didunia ini tidak ada yang menggeser," tandas mantan aktivis ini.
 
Di luar itu, lanjut Ray, ada koalisi abu-abu. Pada awalnya dugaan saya ada dua parpol, tapi sekarang bertambah jadi dua. Koalisi abu-abu ini salah satunya PKB. Partai besutan Muhaimin Iskandar ini masuk koalisi abu-abu setelah PKB menyatakan akan mengusung cak Imin menjadi Cawapres Jokowi.
 
Namun tiga hari setelah anggota  PKB Maman Imanulhaq menyatakan hasrat PKB usung Cak Imin, kebijakan Fullday School yang menjadi polemik menjadi senjata PKB untuk mengancam dukungannya ke Jokowi.
 
"Koalisi abu-abu ini ada tiga parpol yakni Demokrat, PAN dan PKB," tandas Ray.
 
"Koalisi yang belum menentukan sikap dan melihat situasi yang ada diluar dua koalisi yang telah terbentuk tadi," imbuhnya.
 
Adapun PAN, menurut pendiri Lima ini, secara geneologi memang dekat dengan Prabowo, tapi setelah katakanlah Partai Demokrat masuk dalam lingkaran Prabowo, sedikit banyak akan meminimalisasi peran PAN dalam koalisi. 
 
"Jadi misalnya Prabowo dan SBY taruhlah bertemu sebetulnya yang terpinggirkan adalah PAN. Artinya dominasi PAN yang dilakukan dalam koalisi seperti sebelumnya terpinggirkan dengan masuknya SBY," paparnya.
 
Selanjutnya, menurut Ray, PAN sedang dalam posisi menunggu, meskipun secara internal ada ketegangan, seperti katakanlah antara Amien Rais sebagai suhu dan petinggi partai seperti Zulkifli Hasan sebagai ketua umum. 
 
"Itulah kenapa sikap politik PAN sekarang ini lebih diam setelah Prabowo bertemu dengan SBY," ucap Ray.
 
Dia mengasumsikan bahwa sikap menunggu PAN ini terlihat dari pada waktu dimana nanti peran Demokrat pada koalisi dengan Prabowo. Tentu ini akan menjadi resintensi tersendiri. Oleh karenanya PAN masuk dalam Koalisi abu-abu.  (jaa)
Editor : Syahrir Lantoni
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
50%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
50%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%