Kemunculan Setya Novanto Setelah Pulih dari Penyakitnya

Datang Bugar dan Sumbringah, Pulang Buru-Buru Lewat Samping

Kamis, 12 Oktober 2017 | 11:51
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BERSEMANGAT : Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (tengah) memimpin rapat pleno di Kantor DPP Golkar, Rabu (11/10).

Kemunculan Ketua DPR RI, yang juga Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Setya Novanto (Setnov) belakangan ini banyak ditunggu awak media. Aktivitasnya ‘diburu’ setelah keluar dari Rumah Sakit (RS) Premier, Jatinegara, Jakarta pada Senin (2/10) lalu.

Saadatuddraen, Jakarta

INDOPOS.CO.ID - Kehadiran Setya Novanto (Setnov) pertama kali tercium awak media pada Selasa (10/10) lalu di Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta. Ini sesudah dia dirawat selama 15 hari di rumah sakit lantaran didiagnosa dokter mengidap penyakit vertigo, gula darah hingga jantung.Tak lama, dia memenangkan gugatan praperadilan atas KPK terkait status tersangka dalam kasus dugaan e-KTP.

Namun kemunculan perdana itu ada yang tidak biasa. Ini karena Novanto memasuki ruang kerjanya melalui pintu belakang. Padahal lazimnya, setiap anggota atau pimpinan DPR, MPR dan DPD masuk melalui pintu depan Gedung Nusantara III. Seolah-olah Setnov ingin menghindari media.

Kemunculan kedua, yakni saat rapat pleno di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Jalan Anggrek Nelly, Slipi, Jakarta Barat, kemarin (11/10). Untuk pertama kali pula pasca-sakit, Setnov memimpin rapat. Pria kelahiran Bandung, 12 November 1954 itu penuh semangat membahas persiapan HUT ke-53 Partai Golkar, rapat kerja nasional (rakernas), dan pelaksanaan perekrutan calon anggota legislatif partai berlambang pohon beringin. 

Rapat pleno kali ini sedikit berbeda, karena harus dijaga 500 orang anggota polisi bersenjata lengkap gabungan dari Korps Brimob dan Sabhara. Tidak hanya itu, kendaraan taktis barakuda, water canon, bahkan kendaraan anti-ranjau pun ikut disiagakan. 

Terlihat, Novanto datang ke Kantor DPP Partai Golkar menggunakan kemeja panjang warna kuning dengan logo Partai Golkar di dada kiri sekitar pukul 14.30 WIB. Dia memasuki ruangan rapat dengan langkah tegap dan senyum sumbringah. Di raut wajahnya tak terlihat seperti orang yang tengah menderita sakit.

Namun, Setnov tetap mendapat pengawalan ketat dari para anggota sayap Partai Golkar.  Saat itu, dia didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar Idrus Marham,  Ketua DPP Bidang Media dan Penggalangan Opini Golkar Nurul Arifin serta Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI Agus Gumiwang Kartasasmita dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar Roem Kono. 

Sebelum duduk membuka dan memimpin rapat, Novanto sempat ‘diberondong’ pertanyaan dari awak media yang telah bersiaga menunggunya untuk wawancara. Tapi tak semua pertanyaan dijawab Setnov.

Pertanyaan pertama yang dijawabnya soal kondisi kesehatannya. "Saya sehat," ucap pria sempat mengundurkan diri sebagai Ketua DPR RI lantaran diduga mencatut nama Presiden RI Joko Widodo dalam rekaman kontrak PT Freeport Indonesia itu kepada wartawan.

Setnov menambahkan, kondisinya sudah pulih total. "Ya, namanya juga habis berobat, habis istirahat alhamdulillah," sambungnya. Novanto juga mengatakan, ini adalah pertama kali dirinya harus memimpin rapat di DPP Golkar usai sembuh dari sakitnya. "Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar. Alhamdulillah semuanya," tuturnya. 

Disinggung soal reshuffle kepengurusan Partai Golkar? Setnov enggan memaparkan secara gamblang. "Revitalisasi kan sudah kita bagikan semua," pungkasnya. Kendati demikian, Novanto mengaku siap menghadapi jika ada dinamika yang ditimbulkan karena dilakukannya reshuffle kepengurusan yang akan diumumkan.

Tak puas dengan jawaban Setnov, para awak media menunggu dan akan kembali melakukan wawancara usai rapat pleno selesai. Rapat yang dinyatakan tertutup itu memang tak boleh diliput wartawan. Alhasil, media menunggu di luar.

Sayangnya harapan awak media bertemu Setnov lagi pupus dan mengecewakan. Ini karena setelah rapat, Novanto ternyata sudah tidak ada lagi di ruangan. Entah melalui pintu mana dia keluar. Pasalnya, di pintu utama aula besar kantor DPP Partai Golkar, tempat Novanto pertama kali masuk, awak media tidak melihat dia melintas.

Kepergian Setnov itu diduga terburu-buru melalui pintu samping sebelum konferensi pers digelar. Itu pun dibenarkan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham. "Tadi Pak Novanto cepat-cepat pergi, karena itu ditugaskan ke saya (menyampaikan hasil rapat, Red)," ujarnya kepada para jurnalis.

Idrus mengatakan, Setnov memang ada kepentingan lain, sehingga meninggalkan rapat pleno lebih dahulu. Meski demikian, ia tidak mengungkapkan detail kemana tujuan Novanto tersebut.

Idrus justru menekankan, penjelasan hasil rapat memang tidak harus dilakukan oleh ketum. Namun, sekjen sebagai juru bicara partai yang diputuskan dalam rapat pleno bisa ditugaskan untuk menyampaikan. "Di Golkar itu tidak harus ketum, sekjen ini sebagai juru bicara partai yang diputuskan dalam rapat pleno, maka apabila ada penyampaian seperti itu, maka sekjen ditugaskan, apalagi?" tuturnya.

Idrus berharap setelah ini, Golkar akan solid dalam menghadapi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Ini sesuai dengan Rapimnas Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur. "Harapan ketum dengan revitalisasi ada jaminan solidaritas dan kinerja Partai Golkar, serta target 120 kursi legislatif dapat tercapai," terangnya.

Idrus menambahkan, dalam rapat semua peserta menyadari betul bila masa kepengurusan Novanto sangat singkat, tinggal satu setengah tahun. Itu diperlukan solidaritas dan kebersamaan dalam menjamin akselerasi kinerja DPP untuk mencapai target politik, baik pilkada maupun Pemilu Serentak 2019.

Idrus juga meminta setiap kader tetap solid. Tidak boleh ada perpecahan untuk kemajuan Partai Golkar. "Bahwa kekuatan Golkar adalah sistem. Bagian sistem ini berjalan apabila taat atas, solid, ada kebersamaan dan gotong royong," katanya.

Idrus menjelaskan, Novanto bakal kembali mengendalikan seluruh langkah-langkah operasional dan kebijakan Partai Golkar. Walaupun sebelumnya tugas itu diserahkan kepadanya sebagai sekjen dan Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid.

Revitalisasi, kata dia, menghasilkan pergeseran dan penambahan kepengurusan yang sebelumnya berjumlah 279, bertambah menjadi 301 orang pengurus. "Di antara sekian banyak pergantian, salah satu di antaranya tadi saya sudah sampaikan Letnan Jenderal (Purn) Eko Wiratmoko, sekarang ini jadi Ketua Korbid Polhukam," kata dia. 

Eko merupakan pengganti dari Yorrys Raweyai yang menduduki jabatan itu sebelumnya. Di samping itu, Idrus menyampaikan pembentukan Badan Penelitian dan Pengembangan Golkar dan menugaskan Komisaris Jenderal (Purn) Anang Iskandar sebagai ketua. Anang adalah mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Polri. Selain itu Anang juga pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri dan Gubernur Akademi Kepolisian. "Sekaligus diberikan tugas berkoordinasi bersama dengan sekjen dan ketua Korbid Kepartaian dan Korbid Kajian, mengambil langkah-langkah pembentukan Badan Litbang Golkar sekaligus melengkapi komposisi kepengurusannya," ujar Idrus.

Rapat tersebut, lanjut dia, juga membahas pengambilan keputusan tentang rangkaian kegiatan HUT Golkar ke-53 yang acara puncaknya dilaksanakan di Kota Makassar dan kesepakatan tentang tim rekrutmen calon legislatif. "Tadi ketum sudah menyampaikan bahwa mulai hari ini (kemarin, Red) berlaku secara efektif hasil revitalisasi yang dilakukan oleh ketum sebagai pelaksanaan dari tugas dan mandat yang diberikan rapimnas kedua di Balikpapan. Demikian," kata Idrus. (*)

 

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%