Akbar Tandjung Sebut Nasib Golkar Bisa Kiamat

Rabu, 15 November 2017 | 04:57
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi. Foto: dok

INDOPOS.CO.ID - Partai Golkar dewasa ini terus mengalami tren penurunan. Opini publik terus menggerus elektabilitas partai berlambang beringin tersebut, terutama pasca ditetapkannya kembali Ketua Umumnya Setya Novanto menjadi tersangka dalam skandal korupsi proyek e-KTP.

Kondisi tersebut membuat Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung sangat prihatin serta sedih terhadap partai yang pernah dinakhodainya itu. Bahkan ia mengatakan Golkar bisa kiamat jika terus dalam keadaan seperti ini.

"Kalau tren penurunan itu terus 6 persen,  5 persen, bahkan kemudian bisa di bawah 4 persen. Kalau dia di bawah 4 persen,  boleh dikatakan, ya dalam bahasa saya, bisa terjadi kiamat di partai Golkar ini," ujarnya di Jakarta, (14/11/2017).

Melihat kondisi seperti ini, mantan Ketua DPR itu meminta seluruh stake holder Partai Golkar untuk melakukan instropeksi, perbaikan dan perubahan dari berbagai aspek yang ada di dalam organisasi. Termasuk juga ketika dimungkinkan untuk dilakukannya Munaslub Golkar.

"Bahkan kalau memang itu (Munaslub) yang kita anggap terbaik untuk Golkar, termasuk perubahan dalam kepemimpinan. Karena pemimpin ini juga yang akan menetukan dari pada keberhasilan partai, dan pemimpin itu pun juga akan bisa mempengaruhi bagaimana opini publik terhadap partai," terang pendiri KNPI itu.

Menurutnya pemimpin Golkar akan sangat berpengaruh kepada citra partai di mata publik. Jika pemimpin tersebut tidak akseptabel, bisa mengakibatkan tren publik terhadap Golkar mengalami penurunan. 

Sedangkan untuk figur yang dianggap nantinya tepat memimpin Golkar jika digelar Munaslub, Akbar enggan berkomentar lebih jauh dan menyerahkan mekanismenya kepada aturan internal partai.

"Semuanya tentu kita selaraskan dengan peraturan organisai sesuai dengan AD/ART. Kalau dalam kaitan dengan kepemimpinan puncak partai, instansi yang paling memiliki kewenangan itu ya tidak lain adalah munas atau munaslub," tutupnya. (jaa)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%