Gerakan Melawan Politik Uang, Apa Itu?

Kamis, 07 Desember 2017 | 17:30
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Aktivis Gerakan Mahasiswa 1977-1978 (GEMA 77-78) mendeklarasikan gerakan bersih melawan politik uang. Foto : Rizka/ip

INDOPOS.CO.ID - Aktivis Gerakan Mahasiswa 1977-1978 (GEMA 77-78) mendeklarasikan gerakan bersih melawan politik uang. Gerakan ini muncul usai Gema 77-78 menemukan berbagai praktik yang menyimpang dari keinginan rakyat dalam proses demokrasi yang mendasari pilkada serentak tahun 2018.

"Dengan kasat mata dapat disaksikan oleh publik berbagai praktik seperti oligarki elit partai dalam penentuan calon, oportunisme calon mengejar tiket perahu partai pengusung, serta pemilih yang terjebak dalam peraturan pemilu yang minim partisipasi dalam penentuan calon," ucap Aktivis Gema 77-78 Syafril Sofyan kepada INDOPOS, Kamis (7/12).

Gema 77-78 yang dideklarasikan oleh 113 aktivis ini melihat, parpol sangat minim dalam menampilkan calon berkualitas, sehingga parpol harus mencari calon dari luar yang terkadang tidak objektif. Hal itu menjadi salah satu permasalahan serius proses demokratisasi di Indonesia.

Selain itu, Sofyan menuturkan, biaya politik untuk maju juga sangat mahal karena harus menanggung semua ongkos politik yang mencakup kampanye pribadi calon maupun biaya mesin partai yang besar. Calon kurang mengenal pemilihnya dengan baik sehingga harus mempromosikan diri dengan ekstra untuk mendapatkan suara yang cukup untuk menang. Partai juga memerlukan anggaran yang dibebankan kepada calon yang diusungnya.

"Calon berupaya mendapatkan dana dari simpatisan atau penyandang dana dengan membuat berbagai kesepakatan yang berdampak pada penggunaan kekuasaan (bagi-bagi jabatan dan bisnis) jika calon menang," jelasnya lagi.

Akhirnya, kata Sofyan, calon tersebut terlalu memaksakan diri dan berspekulasi dengan biaya tinggi. Sumbangan relawan menjadi terbatas sementara sumbangan penyandang dana tidak pernah transparan. Dalam kondisi seperti ini maka politik uang (money politics) tidak dapat dihindari. "Alhasil calon pemenang akan tersandera kesepakatan politik dan bisnis dengan penyandang dana dan relawan pendukungnya," tandasnya.

Selanjutnya puncak dari tersanderanya pemenang pilkada dalam lingkaran politik ialah gagalnya menciptakan pemimpin berkualitas dan terdistorsinya program-program daerah oleh kepentingan penyandang dana dan desakan kepentingan relawan pendukung.

"Selama tiga musim pilkada yang sudah berlangsung nyatanya para penguasa hasil pilkada tidak bisa memenuhi kehendak dan kebutuhan rakyat pemilih bahkan penguasa tidak sanggup memenuhi janji kampanye kepada pemilih," tutupnya. (jaa)

Editor : Muhammad Izzul Mutho
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%